Selamat Datang di:
www.PuisiKita.Com

PuisiKita
--> Kirim Karya Puisi Anda di Sini

18/01/2014

Sahabat Menjadi Cinta

Cinta yang selalu kurasakan saat bersamamu
     apakah aku telah jatuh cinta padamu?
        apakah aku mulai suka denganmu?
      Cinta bila memang begitu kenapa baru
                            nampak...
            kenapa baru muncul perasaan itu
            setelah sekian lama kita bersama
       bersama dalam menjalani persahabatan...
      Cinta bila memang benar ada perasaan itu
              katakanlah secepatnya jangan
                kau buat aku bertanya-tanya
                       akan perasaanku...


Puisi Karya: Juliet Julika

Kategori Puisi: Puisi Kata Hati


Juliet Julika dari SMAN2 SUNGGUMINASA.

Kenangan yang Tertinggal

butiran debu yang disapu oleh angin
kini menjadi kenangan
kusimpan dalam memoryQ
kujaga sampai mati
hanya untuk membahagiakan mu
ohhhh,,,,,,,,sayang
alunan nada yang kita ciptakan kita berdua
tepatnya,sehari setelah ulang tahun ku
kunikmati sisa2 hidupku hanya bersamamu''''''
  oh,,kasihhhhh


Puisi Karya: Anas Saputra

Kategori Puisi: Puisi Kenangan

22:09 Parodi Malam

Detik ini dia bertemu lagi dengan kata-kata. Kata-kata yang menemani hatinya. Aku pun terkekeh, begitu hebatnya setan telah mengebiri akalnya. Membagi separuh imajinasinya pada kegundahan tak berujung. Dia memincingkan hatinya. Berharap akan muncul dengan sendirinya kata-kata harapan. Yang akan menyelamatkan dirinya dari membunuh asanya sendiri. Aku terkekeh lagi, melihatnya terpincang. Menahan beban yang tampak semakin berat. Ahh dia memang bodoh. Kenapa aku mengatainya bodoh?
Karena dia sudah mematahkan arangnya sendiri. Ahh sungguh parodi penuh ironi. Dia mengunci imajinasinya dalam gelas kaca. Transparan, terlihat , tapi tak terjangkau. Dia hanyalah korban. Korban penjajahan dari rindu-rindu yang berduri. Sebenarnya aku tau,dia berusaha memecahkan gelas kaca itu. Tapi tali-tali tak tampak menahannya. Maka pada akhir katanya. Dia memaksakan menggoreskan kata harapan. Meskipun tetap saja, jarinya mengharu biru.
Aku terkekeh lagi.
Dasar memang,
Dia itu orang bodoh.
Kehilangan kepercayaan yang seyogyanya paten melekat pada dirinya itu.


Puisi Karya: Ufairah An'Nibras

Kategori Puisi: Puisi Motivasi

Mari Bicara

Mari bicara..
Tak perlu bermuka masam seperti itu
Apalagi memasang muka sedih berlinang air mata
Kau fikir kau pemain sinetron yang tengah dianiaya ibu tirinya?
Sadarlah...
Kau hidup didunia nyata
Dan dunia nyata memang tak seindah kau fikirkan
Apa kau fikir dengan satu jenis perasaan, lalu takkan ada lagi kesedihan?
Cihh
Untukmu pun aku akan tertawa mengejek

Kau ingat satu kata ini? Satu kata yang berhubungan dan beranak pinak.

Keputusan

Sadarlah,
Kau sudah lancang memutuskan suatu hal yang bukan urusan sepele

Dari keputusan, berpasangan dengan konsistensi, lalu beranak konsekuensi

Keputusan itu keberanian
Konsistensi itu keharusan
Konsekuensi itu pertanggungjawaban

Lalu kenapa sekarang kau mangkir dengan konsekuensinya?
Cukup,
Sekarang aku ganti,
Mari dengarkan !!!

Janganlah jadi pengecut, hanya berkubang pada satu ketakutan

Jangan kau andalkan kelemahanmu itu
Sungguh,
Jika kau masih saja seperti itu,
Aku tidak hanya akan tertawa mengejek kepadamu
Aku akan menangisimu
Seakan-akan kau telah mati
Bener kan?
Coba berikan perbedaannya padaku

Bukalah matamu
Hapuslah air matamu
Kau memang bukan pemain sinetron
Jangankan dibayar, tangisanmu pun tak kan ada yang perduli

Bahagia itu mahal , untuk manusia sepertimu..
Bahagia tak semudah membalikkan telapak tangan
Meskipun kau dengan mudahnya menempelkan stiker smiley dibibirmu

Buka sajalah matamu
Buka sajalah fikiranmu
Buka sajalah hatimu

Masih banyak yang lebih menderita darimu
Meski hatimu terasa sedih ataupun sepi
Ada yang lebih pantas menangis darimu

Kau takkan pernah sendiri
Ada aku...


Puisi Karya: Ufairah An'Nibras

Kategori Puisi: Puisi Harapan / Asa

07/01/2014

Bagaimana

bagaimana melarang hujan jatuh ketika ada awan
bagaimana melarang daun jatuh ketika ada angin
dan bagaimana melarang aku jatuh cinta ketika ada kamu


Puisi Karya: Yusman Setia 2364 Keren

Kategori Puisi: Puisi Kata Cinta

Dia

Hai Kasih,apa kabarmu
Di sini,aku ciptakan rindu
Untukmu yang selalu ku tunggu
Untukmu yang ku candu
Ku lipat rindu nya tak kentara
Mengirimnya lewat udara
Agar saat kau hela
Terasa di tiap rongga
Tak lupa ku selipkan cinta
Sedikit luka menghiasinya
Semoga terbalas rindunya
Aku hampir tak kuat menunggunya


Puisi Karya: Inaqi Kalingga Eka Putra

Kategori Puisi: Puisi Rindu/ Kangen

Puisi-puisi Tentang Guru (Karya Acep Syahril)

Guru yang Tak Punya Malu

bertahun-tahun mereka belajar dari kalian guru yang selalu membuat
banyak kesalahan dan kelalaian guru yang kemudian membuat
murid-muridnya jadi malu pada dirinya sendiri kini kalian
semakin tak mereka mengerti padahal mereka tau kalian juga
sama seperti mereka hanya debu yang menempel di lidah waktu

lalu diam-diam mereka belajar dari kelalaian kalian tanpa semadi atau
menyepi dari keramaian tapi menyelam dalam lautan kalian berenang
berenung di dalamnya tanpa mencari tepian sembari bertanya pada
rasa malu itu

bertahun-tahun mereka belajar dari gurunya yang selalu membuat banyak
kesalahan dan kelalaian yang berlangsung seperti pemandangan pagi hari
di kebun teh disitu mereka juga belajar dari keramahannya yang ternyata
menyimpan banyak belahan dunia
ow terima kasih daun teh katanya kalian telah mengajarkan kami
untuk tidak melakukan kalalaian seperti yang diajarkan guru-guru kami
sebab ketika orang-orang di luar fikiran kami sibuk membungkus dunia
guru-guru kami malah sibuk membungkus diri sendiri

2011


Gurunya Digergaji Waktu

gurunya yang satu ini adalah pencari buku bekas dia hidup di setiap
pulau yang mengajarkannya cara merawat kasur dan kamar tidur serta membuatkan pekerjaan dan menyemprotkan minyak wangi ke tubuhnya meski sebenarnya dia lebih tertarik pada barang-barang bekas dingin malam dan angin terminal guru yang tak pernah lelah mengikuti jalan waktu dan nasibnya sungguh darinya dia banyak belajar dari rambutnya yang putus asa dan dari kakinya yang pernah menyimpan panjang harapan dia belajar untuk tidak menjadi sesat padanya dia belajar untuk tidak menjadi lupa padanya lalu diam-diam dia bersyukur walau menyayangkan sikap gurunya yang tak pernah mau belajar dari kebodohan yang bertahun-tahun terus digergaji waktu kini gurunya itu semakin hari semakin bertambah banyak dan semakin membuatnya bingung

dia tak habis fikir mengapa di negara ini guru dan murid sama banyaknya

2011


Guru yang Selalu Menyimpan Palu

semua orang tau guru kami bukan seorang tukang kayu meski setiap
saat hidupnya tak lepas dari palu kadang berkali-kali dia pukulkan palunya
ke meja dengan wajah hitam selain sering kami pergoki mengenakan lipstik
dan deodorant dengan penampilan menawan dihadapan para pesakitan
sehingga tak jarang guru lalai sampai lupa memukul tanganya sendiri
ketika beliau terbuai oleh imajinasinya dan melayang-layang ke suatu
tempat atau tertidur lelap di lajunya veyron fiat dan di mercedes benz
dengan rumah mewah yang sebentar lagi dia tempati bersama anak
istrinya semua orang tau guru kami bukan seorang tukang kayu tapi
di otak sebelah kirinya ada sebuah kantung yang dia siapkan untuk
menyimpan palu serta memastikan kalau besok masih selalu ada jadwal
baginya untuk membebaskan para maling negara yang bisa mengakses
hidupnya atau membunuh waktu si miskin dengan menjatuhkan palu
di mejanya demi memperpanjang kepercayaan negara pada dirinya
semua orang tau guru kami bukan seorang tukang kayu oleh karena itu
beliau tak bisa membedakan mana kayu mana besi dan mana batu
demi allah kami bersumpah tak mau sesat dan bejat seperti guru

2011


Guru yang Tak Mengerti Bumbu Dapur

guru kami ada karena dibutuhkan negara karena negara menginginkan
rasa aman lalu guru kami belajar memahami dan menyelesaikan tiap
persoalan tapi kadang mereka lupa bumbu dapur seprti kemiri buah pala
bunga lawang laos dan kapol mereka tau kembang gula tapi tak faham logika
padahal kami lebih menginginkan daun mengkudu karena sejak dulu
kami cuma minta dikirim keadilan tapi selalu saja mereka paketkan kecemasan
akhirnya kami marah pada negara tapi anehnya negara malah mengirim kami
ke penjara sungguh sebenarnya kami bingung karena guru kami kenyataannya
tak pernah mengajarkan kami untuk memiliki rasa aman dan sejak itu
kami tak mau celaka seperti guru

Indramayu 2011


Guru Belia yang Tertidur di Buku Sejarah

guru-guru belia itu hidup dan tertidur di buku-buku sejarah
bangsa lain yang kadang bermimpi dan mabuk lalu keluar dari
ruh sejarahnya sendiri berjingkrakan di diantara erangan musik
yang mengeluarkan bau bangkai gibson tapi aneh guru-guru
belia itu bangga menghisapnya padahal di paru-paru mereka
tidak hanya ada saman kunaun tortor atau krinok yang sejak lama
menidurkan puncak-puncak merapi sabang dan bukit siguntang namun
lucunya guru-guru belia itu kian hari semakin bertambah angkuh
dan bangga menciumi pantat babi sambil menari-nari dengan
mengibarkan keyakinannya dan berucap bangga
kami juga sama pandainya dengan mereka meski hanya dengan
menciplak meniru dan mencuri kehebatan mereka
koplok

guru-guru belia yang hanya bisa menghitung jumlah kancing baju
tapi tak pandai berfikir bagaimana kebudayaan bisa tercipta pada saat
kencing dan buang tinja meniduri bayi atau saat bersenggama

guru-guru muda yang hanya bisa menarik dan menurunkan rosleting
tapi tak pandai berfikir bagaimana ranjang bisa menerangi jagad
raya ah guru-guru belia yang hanya bisa memindahkan tumpukan
batu-bata tapi tak pandai mengasamkan tanah mencetak kembali
kepala syailendra atau jari-jari mpu gandring yang lama membusuk
di paru-parunya

ah guru-guru belia yang silau pada bau bangkai aku tak mau terjebak
seperti kamu yang tak pernah mau menyelami ruh bangsamu

2012


Puisi Karya: Acep Syahril

Kategori Puisi: Puisi Kritik Sosial



Acep Syahril lahir di desa cilimus, Kuningan, Jawa Barat, 25 November 1963, sekarang tinggal di blok Senerang Rt,02 Rw.06 nomor. 314 Desa Sudikampiran, Kecamatan Sliyeg - Indramayu, Jawa barat - Indonesia

Malam-malammu

Malam ini bukan sembarang malam...
Malam ini terjadi hanya untuk buatmu bermimpi lebih indah...
Bulan di atas sana,bukan sembarang bulan...
Terangnya hanya tercipta untuk menerangi perjalanan mimpi yang indah...

Bintang di sampingnya, bukan sembarang bintang ..
Indahnya hanya untuk menghiasi nikmatnya lelapmu...
Dan hatiku,bukan sembarang hati...
Tulusnya tercipta hanya untuk memcintaimu...


Puisi Karya: Hendra Syahputra

Kategori Puisi: Puisi Cinta

Padamu Dimalam Itu

Merindukan semburat rembulan meski semu
Berterpa angin termangu di atas batu
Dalam jelaga malam
Lamunanku memecah kesepian
Teriakan serigala
Dan burung kelelawar
Semua tampak bosan dan enggan

Jangkrik tak berderik
Malamku seakan kau cekik
Tidak senyum walau setitik

Rimba pepohonan kota
dingin mematung cahaya
ketika musim semi barisan senja
burung-burung berbaris di atas gedung tua
tampak redup menikmati gelapnya dunia
Tadahlah air mata
bercermin purnama
Katamu tampak gagu

Nona
Dikamarku sebuah radio memutar lagu
walau aku masih di sini menunggu
Semoga sepotong sapaku menentramkanmu


Puisi Karya: Bintang Jatuh

Kategori Puisi: Puisi Cinta

Yang Terhomat Tuhan

Kepada
Yang Terhormat Tuhan
dengan hormat
perlu Tuhan ketahui bahwa
kepercayaan yang Tuhan berikan
kepada manusia tak dapat
dipercaya lagi

gerabah telah retak
keramik pecah di atas tungku
pembakaran, manusia tidak lagi manusiawi
suami menjual isterinya
ibu membunuh bayinya
anak membunuh bapak ibunya
ayah meniduri putri kandungnya
dekil tanah dalam nafas dan didih darah

dalam ombak
semayam bonsai jiwa kerdil rasa
derai kikis selaput pemikiran
getar kejang otak-atik yang antik

ayat sekitab kering
jadi camilan di saat senggang
kuntum bait mampu menghasilkan duit
bahkan peraduan jabatan dan kedudukan

ayat sekitab yang basah
habis mereka lalap
melelapkan hutan, gunung bahkan lautan
wariskan hutang juga bencana
mendesis seonggok dalih
itu cobaan

manusia tidak lagi manusia

Bojonegoro,18032004


Puisi Karya: Gampang Prawoto

Kategori Puisi: Puisi Kritik Sosial

Ibuku Sayang

Ketika aku bangun pagi,
ibuku di dapur memasak nasi.

Ketika aku pergi sekolah,
ibuku masih berbenah-benah.

Ketika aku pulang sekolah,
Ibuku masih bekerja di rumah.

Ketika aku pergi bermain,
Ibuku mengumpulkan cucian pakaian.

Ketika aku pulang ke rumah,
ibuku tampak bertambah lelah.

Ketika aku pergi tidur,
ibuku menyiapkan bantal dan kasur.

Kapankah beliau istirahat?
Oh,Tuhan pemberi rahmat,
Berilah ibuku kekuatan,
Berilah ibuku kesehatan,
Limpahkanlah kepadanya rahmat.


Puisi Karya: Aura Eka Rahayu

Kategori Puisi: Puisi untuk Ibu

Tuhan

Tuhan.......
Hadir-Mu
Bagaikan kabut
Merendah embun
Siramkan sabda
Pada hati yang kering

Hadir-Mu
Tanpa bayang
Dalam seketul roti
Di atas pusara altar suci

Sedari tadi menunggu
Bagaikan pengemis
Berpakaian lusuh
Tertidur pulas
Di pintu hati
Pada lorong yang kering
Dan jiwa yang rapuh


Pada senja yang muram
Yang sedari tadi ingin menggendong malam
Di depan arca Maria Bunda-Mu
Aku bertelut dalam kata
Melafal dalam bisu
Pada bilik pengampunan

“Mea culpa, mea culpa
Mea maxima culpa”
Saya berdosa, saya berdosa
Saya sungguh berdosa

Malam memangku sunyi
Tetenuh
Diam
Pada sebait doa
Dalam air kata-kata


Sebelum malam beranjak pergi
Menjemput pagi
Isyarat makna dalam kata
Pada bunda yang melahirkan kerendahan hati
Ku hunjukan azab syukur
Dan mahligai cinta tak bertepi
Pada nama Ha-Shem
Guru Ilahi dan penyelamat manusia


“tuk bunda Maria ratu yang mengajarkan dan membahasakan kerendahan hati. Dan Tuhan pemberi cinta yang tak kunjung pupus.”


Puisi Karya: Yurgo Purab

Kategori Puisi: Puisi Pesan

Sahabat

Sahabat
Sah abat
Sah abad
Selalu abadi
Sah abad
Sah abat
Sahabat


Puisi Karya: Yurgo Purab

Kategori Puisi: Puisi Pesan

04/01/2014

Jika Aku

jika aku seorang malaikat
akan kulunakkan hatimu untukmencintaiku
jika aku seorang pe-hipnotis
akan kukirim kau ke bawah sadarmu untuk mencintaiku
jika aku seorang pencuri
akan kucuri hatimu untukku seorang
jika aku seorang mata mata
takan ku biarkan engkau lari dari pengawasanku
jika aku seorang milyarder
pastilah engkau harta paling berhargaku
jika aku menjadi pemulung
akan kupungut serpihanserpihan hatimu yang telah hancur karna orang lain
jika aku menjadi polisi
takkan kubiarkan kau lolos dari jeruji hatiku
jika aku seorang puitis
untaian kata kata indah hanyalah untukmu

tapi.....
aku memilih menjadi diriku sendiri
agar engkau dapat mencintaiku apa adanya.....
.............................


Puisi Karya: Alifa Silfi Mufidah

Kategori Puisi: Puisi Cinta

Sebut Saja, Ia Senja

Singkat..
Kehadiranmu hanya berlangsung sekejap dalam anganku..
Di sini aku menantimu,..Senja
Berharap kau menemaniku hingga nanti..

Bercengkrama bersamamu menikmati rindu.... cukup indah
Rindu yang tak lama akan sirna kau bawa pergi..
Mungkin kau lupa, pernah bercerita kepadaku
“Aku membawa rindumu untuk kusimpan dalam malam”
Kau menyimpan ribuan rinduku dalam sunyi..
Aku harus menanti sekian lama untuk melihatmu kembali..
Walau hanya satu kali rotasi bumi,
Aku tak cukup kuasa menahannya..
Bagai satu abad perasaan ini terpenjara..

Kau tak pernah mengerti, atau aku yang tak mau mengerti tentangmu..
Aku tak mampu menafsirkan mengapa dan bagaimana caramu meninggalkanku..
Kau hanya meninggalkan bulan untukku..
Sebagai pengganti dirimu selama aku terisak dalam sendu

Senja.....
Kau datang dengan indah, mempesonakan jiwaku atas parasmu
Lalu, matahari seraya menggandengmu pergi,
Membuatmu hilang perlahan membawa rindu,
Kini, bulan yang berganti menemaniku..
Usailah, rinduku lenyap kau bawa pergi..


Puisi Karya: Alifa Silfi Mufidah

Kategori Puisi: Puisi Rindu / Kangen