04/10/2010

DIALOG

Waktu: Jakarta tahun 1964.
Tempat: Istana Merdeka.
Acara: Keliling kontrol lukisan;
Yang hadir: Bung Karno, Pak Adung, Pak Sueb, aku (Guntur Soekarno).
____________________________

Saat itu aku sedang asyik-asyiknya telepon seorang temanku wanita di Jakarta. Jam menunjukkan waktu sekitar jam 3 sore. Aku telpon sambil tidur-tiduran di tempat tidur sembari makan tebu yang sudah dipotong-potong, kesukaanku. Sedang asyik-asyiknya ngobrol tiba-tiba Bapak masuk.
- Eh, bapak, aku kira siapa!
+ Telepon awe-we ya! (awe-we = cewek).
- Akh, enggak, teman saja.
...Eh ...gini ...ya ...eh,udah dulu ya soalnya bapak ada perlu sama mas Tok, nanti mas Tok telpon lagi deh... OK?! Oh, pasti masa mas Tok ngibul... ...Ada apa pak?
+ Mana kau punya kotak cat lukisan? Bapak mau pinjem.
- Sebentar pak aku cari dulu, dulu sih ada di lemari ini, nggak tahu sekarang. Soalnya sejak aku di Bandung nggak pernah dipake-pake. Mau buat apa sih pak?
+ Aku mau membetulkan lukisan. Ada lukisan Bapak yang di o-ok-in codot! (“o-ok” adalah istilah keluarga untuk “hajat besar”). Gafur teledor! (Sdr. Gafur adalah petugas yang bertanggung jawab mengenai pemeliharaan lukisan-lukisan bapak).

Setelah kutemukan kotak cat, bapak mengajakku ke ruang makan tamu yang letaknya di sayap kiri dari gedung Istana Merdeka. Ruang makan ini letaknya bersebelahan dengan ruang makan keluarga tempat kami makan sehari-hari. Di situ tergantung lukisan wanita-wanita telanjang dikelilingi bunga-bunga sepatu warna merah karya pelukis Le Meyeur dari Bali. Yang menjadi model wanita telanjang pada lukisan itu adalah istri Le Mayeur sendiri yang bernama Ni Pollok. Ternyata lukisan inilah yang akan diperbaiki oleh bapak karena salah satu sudutnya terkena o-ok codot.
Iseng-iseng aku bertanya pada bapak yang sedang tekun memperbaiki lukisannya.
- pak, bu Pollok di sini kelihatannya kok muda amat ya. Yang kau lihat sebenarnya waktu kita makan-makan di rumahnya di Bali kelihatannya kan sudak tuek (tua).
+ Biar tua cantiknya tetap.
- Doyan makan jamu barangkali.
+ Tak tahulah, apalagi waktu mudanya... teteknya besar dan bagus bentuknya.
- Dari mana bapak tahu?
+ Dulu di zaman belanda ada potretnya.
- Kalau yang di lukisan itu teteknya bagus nggak pak?
+ Bagus, buktinya codot juga ingin lihat-lihat sampai-sampai ... o-ok!

Setelah selesai memperbaiki lukisan Ni Pollok, Bapak memeriksa lukisan-lukisan yang berada di ruang sebelahnya, yaitu ruang makan keluarga.
Dalam ruang ini ternyata tidak ada lukisan yang di o-okin codot, kecuali lukisan dua orang pengemis, ayah dan anak; yang letaknya agak miring.
Sambil memperbaiki letak lukisan bapak berkata:
+ kau tahu mengapa lukisan ini bapak pasang diruang makan ini?
- Enggak!
+ Supaya bapak waktu makan selalu ingat pada Tuhan yang memberi rezeki pada bapak dan selalu ingat rakyat Indonesia yang masih melarat karena Neokolonialisme!
....eh, ayo kita ke ruang terima tamu.

Sambil menenteng kotak cat aku ikut bapak menuju ke ruang terima tamu. Perlu kita ketahui di sini bahwa ruangan tamu ini hingga sekarang masih tetap digunakan sebagai ruang penerimaan tamu oleh pak Harto. Ternyata di ruangan ini tidak terdapat lukisan yang kena o-ok codot. Dari situ kita terus ke ruangan kantor pribadi dan perpustakaan bapak. Ruangan ini letaknya di sayap kanan gedung Istana Merdeka dan bersebelahan dengan ruang tamu tadi. Waktu aku masuk mengikuti bapak ke dalam ruangan, sebuah lukisan wanita berkebaya menarik perhatianku, karena seingatku selama ini di sana biasanya bukan lukisan itu yang tergantung. Lukisan itu kira-kira panjangnya 2,30 m dan lebar 1,20 m. Pelukisnya basuki Abdullah; wanita yang dilukis menurut perkiraanku berumur kira-kira 29 tahun – 35 tahun. Wajahnya menarik kalau tidak mau dikatakan sangat cantik dan ayu. Melihat dari cara dandanan serta raut wajahnya, menurut perkiraanku ia adalah wanita jawa Tengah (solo). Terdorong keinginan tahu siapa model lukisan itu, akupun bertanya pada bapak:
- pak, ini modelnya ada betul nggak?
+ Ada... eh, Tok, coba panggilkan pelayan suruh turunkan lukisan ini... itu Adung, dengan siapa saja salah satu.
Para pelayan yang kupanggil waktu itu adalah pak Sueb dan pak Adung. Setelah mereka datang, mereka kemudian menurunkan lukisan tadi dari tembok.
+ Eb, candak ieu gambar ka tempat bapak cukur. Sing ati-ati...
- pak, kok diturunin lukisannya? Apa kena o-ok codot?
+ Apa kau tidak lihat? Lha, ini apa di kebayanya?
- Oh, ya nggak kelihatan. (bagaimana akan terlihat olehku soalnya ku sudah kesengsem pada wajah ayu lukisan itu, sehingga tidak memperhatikan!)

Tempat di mana bapak biasa cukur rambut adalah ruang utama dari Istana Merdeka yaitu hall di mana resepsi-resepsi kenegaraan selalu diadakan. Dengan dibantu oleh 2 orang pelayan yang memegangi lukisan tadi, bapakpun mulai membersihkan o-ok codot yang menempel di lukisan dan mengadakan retouching secara teliti. Selama proses ini berlangsung aku mengajukan lagi pertanyaan-pertanyaan karena terdorong rasa ingin tahu siapa wanita yang menjadi model lukisan itu.
- Bapak tadi bilang ini orangnya ada betul siapa dianya?...
Bapak diam saja dan terus tekun bekerja. Dengan agak ragu-ragu aku bertanya lagi.
- Eh... eh. Ini orangnya betul cantik? 9agak gugup aku bertanya).
+ Ya.
- Sudah tua?
+ Sedenganlah...
- Tua mana sama yang dilukisan...
+ Kira-kira seperti inilah orangnya.
- Persis?
+ Kira-kira..!
- Mirip-mirip Bu Har... ya... nJawani.
+ Cantik mana menurut kau?
- Dua-duanya nggak cantik (walaupun dalam hati aku akui dua-duanya cantik).
+ Yang cantik itu seperti apa?
- Apa, gimana pak?
+ Contoh wanita cantik menurut kau ini seperti siapa? ...Sudahlah...! Bintang film Indonesia yang kau anggap cantik siapa?
- kalau bapak?
+ kau, dulu!
- Ya... deh... Nurbay Jusuf! Kalau Bapak?
+ Dian Anggraini, atau... yah... Roosilawaty. Waktu mudanya juga bolehlah cantiknya. Menurutmu masa yang dilukis ini tidak cantik?
- Ah, nggak...
+ Coba kau perhatikan sorot matanya kan cantik sekali... ya, tidak?
- Ya... gimana ya... lumayan deh... tapi itu kan karena pak Basuki Abdullah pintar melukisnya jadinya bagus.
+ Belum lagi bentuk hidung dan bibirnya... ayo... perhatikanlah... apa pernah kau lihat bentuk yang secantik ini?
- Di bandung banyak pak yang lebih cantik. Apalagi di Universitas Pajajaran. Fakultas Sastra dan Hukum gudangnya! Pokoknya di sana berjibun! (berlimpah-limpah).
+ Ya, tapi kan tidak secantik ini!
Dung, Sueb, kumaha, ieu geulis henteu?! Geulis... nya! (Dung, Sueb, gimana, ini cantik tidak?! Cantik ya!)
v Leres pak! (betul pak!).
+ Nah... masa begini tidak cantik?!
- Aku nggak bilang nggak cantik, tapi lumayan.
+ Potongannya menurutmu bagaimana? Ini ia punya bentuk tubuh maksudku.
- Sudah agak gembrot...
+ masa begini kau katakan gembrot?
Kalau mbok Tjitro nah... itu gembrot! (Mbok Tjitro adalah kepala juru masak istana merangkap pengasuh Sukma).
+ Ini adalah figur putri Solo asli! Pernah punya pacar orang Solo?
- Belum! (Di sini terus terang aku ngibul).
+ Kalau kau mau cari pacar orang Solo, figurnya harus seperti ini... baru namanya cantik. Dan kau tahu kulitnya... bukan main halusnya! Pak Basuki pinter melukisnya, 99% persis seperti aslinya.
- Memangnya dia siapa sih pak?
+ Ho, ho, rahasia! Pendek kata cantik tidak? Ayo... terus teranglah, boleh bandingkan dengan pacar-pacarmu, kalau memang kau punya!
- Ya cantik pacar aku dong pak!
+ Aaaah! ... memang kau ini keras kepala seperti ibumu! Terserahlah maumu! Pendeknya kalau kau lihat dia bugil di atas kasur baru kau tahu betapa cantik dan mulusnya dia! (Bugil = telanjang bulat).
- Lho, bapak tahunya dari mana?
+ Hoah, hoah, hoah... (Bapak tertawa terbahak!)