04/10/2010

DUA ORANG JAGO NGEBUT

Waktu: Tahun 1962.
Tempat: Ruang makan keluarga Istana Merdeka.
Acara: Makan siang.
Yang hadir: Bung Karno, Pak Chaerul Saleh, Megawati, Pak Sarnapi – Enem Said (pelayan-pelayan) dan aku (Guntur Soekarno).
_______________________________________________

Begitu aku datang dari sekolah bersama adikku Mega, di beranda para pengawal sudah mencegatku dan mengatakan bahwa aku dan Mega sudah ditunggu makan siang oleh bapak.
Mengetahui hal itu cepat-cepat aku lari ke kamar buat menyimpan tas ransel sekolah kebangganku dan berganti pakaian. Begitu rampung aku cepat-cepat lari ke kamar makan dan ternyata di situ bapak sudah lebih dulu makan siang bersama pak Chaerul Saleh, salah seorang menteri dalam kabinetnya.
- Eh, kau... ayo duduk sini sebelah bapak! Ini salam dulu sama pak Chaerul!
+siang Oom!
v Waah, bagaimana ini cara salamnya, tangan oom kotor... pakai tangan kiri sajalah. (Pak Chaerul tidak bisa salaman dengan tangan karena makan dengan menggunakan tangan).
- nah, itu Mega! Dis, ini Pak Chaerul, ayo salam.
Selama kita makan, bapak dan pak Chaerul terus berbicara berbagai macam soal politik tinggi yang rumit-rumit. Waktu makan buah-buahan tiba, bapak bercerita tentang pak Chaerul di masa mudanya.
-Waktu Revolusi 45 meletus pak Chaerul inilah yang memimpin pemuda-pemuda revolusioner mengorganisasi perlawanan terhadap Jepang bersama pak Karni. Pak Chaerul belum segemuk sekarang, dulu ceking (kurus) orangnya!
Sekarang ini pemuda-pemuda enak, seperti kau ini, ke sekolah naik mobil, pakaian bagus-bagus, waktu zamannya pak Chaerul pemuda... uuh... barangkali waktu itu pak Chaerul punya celana Cuma 2 stel! Itupun sudah apek! Ke sana kemari jalan kaki atau paling-paling naik sepeda. Tapi ya, itu semangatnya tinggi, kemauan berkorban untuk rakyat besar sekali. Sekarang ini kalau kita tidak hati-hati pemuda-pemuda akan kehilangan semangat pengorbanan untuk rakyat tadi. Oelh sebab itu aku anti: ngak, ngik, ngok! Dan kau, sebagai pemuda jangan ngak-ngik-ngok-ngak-ngik-ngokan Betul tidak, Rul?!
v Benar pak!
- Nah lagi, soal celana anak-anak muda sekarang. Hah seperti ini kau punya celana ini, merecet tidak keruan! Apa kau punya... (sulit buat aku tuliskan disini!) tidak sakit kecepit? Duilah.. Mbok ya celana itu yang longgar seperti bapak ini atau yang seperti pak Chaerul itu. Akh, tapi aku lihat beberapa dari jij punya celana agak kesempitan Rul, seperti yang jij pakai sidang kabinet lalu...
v Jo salah jahit Pak. (Jo = Ibu Johana Chaerul Saleh). Nanti saya koreksi dia.
- Oh ya, masih dalam hubungan pemuda sekarang! Aku dapat laporan dari kepolisian, kau setir mobilmu seperti setan di jalan, sampai-sampai itu adiknya baby Huwae kau tabrak! Ya... apa... ndak (Bapak melotot kepadaku!)
+ Y... y... ya... pak.. tapi yang salah dianya.
- Tidak perduli siapa yang salah, pokoknya kau setir seperti setan iya apa ndak! Awas jangan sekali-kali lagi! Sekali lagi aku dengar, bapak perintahkan bakar kau punya mobil!
v Tur, apa yang bapak katakan itu betul, sebaiknya kalau mengendarai mobil perlahan-lahan saja, supaya aman. Bila ada terjadi kecelakaan, yang akan susah toh bapak juga!
-Heeeeh... Rul! Dia ini nyetirnya gila-gilaan lantaran kau! Begrijp......., ye! Dikira aku tidak tahu?
v...?!? (Pak Chaerul kaget).
-Ya memang! Aku dapat laporan kau dan guntur sering balap-balapan di daerah Kebayoran, persisnya di Jalan Singamangaraja dan Senopati. Dan aku dapat laporan juga bahwa sekarang ini tukang-tukang becak di daerah Cikini semuanya lari ketakutan diserempet kalau melihat mobil Kharman Ghia merah kepunyaan kalian! Kau ini memang terlalu Rul! Jij... itu menteriku, jadi jangan ngros-boy!
v Yah, sesekali pak...

Waktu habis makan, bapak dan pak Chaerul meneruskan pembicaraan politik mereka di kamar tidur bapak, aku langsung pergi ke samping kanan Istana Merdeka tempat mobil-mobil tamu diparkir dan menunggu pak Chaerul di sana sambil main catur dengan para pengawal pribadi.
Aku menunggu di sana hampir 2 jam lebih sampai pak Chaerul muncul menuruni tangga samping Istana Merdeka. Cepat kuikuti dia berjalan ke Kharman Ghia Sport-nya yang merah.
+ Oom... bapak masih marah?
v Akh... tidak!
+ Habis dari sini oom ada acara ke mana?
v Ke mana kita? Oom tidak ada acara. Ayo ke Singamangaraja... O.K.?
+ Beres, oom!! 5 menit lagi saya ada di sana oom!
Langsung aku lari ke Kharman Ghia merahku dan aku kebut ke arah Kebayoran baru...