05/10/2010

OLAHRAGAWAN AMATIR

Waktu: Persisnya lupa.
Tempat: Istana Merdeka/Istana Negara.
Yang hadir: Bung Karno, Komandan jaga Ajun inspektur Dalimin, para pelayan dan lain sebagainya, aku (Guntur Soekarno).
____________________________________________

Karena bapak mengetahui bahwa salah satu hobby-ku adalah mengumpulkan gambar-gambar, artikel-artikel, berita-berita dari tokoh-tokoh olahragawan dunia, maka pada suatu hari bapak mengajakku untuk menonton film tentang seorang tokoh olahraga dari Amerika Serikat.
- Tok, besok kau di sekolah ada ulangan tidak?
+ Nggak ada Pak!
- Pekerjaan rumah?
+ Ada, tapi sudah aku kerjain... kenapa pak?
- Kalau begitu, nanti malam kau ikut Bapak nonton.
+ Film apa Pak? Koboi? (Cowboy maksudku).
- Bukan! Film jagoan olah raga Bob Mathias. Juara das...
+ ... dasalomba Olympiade London 48, helsinky 52!! Rekord dunianya... (aku sebutkan angkanya) dengan perincian prestasi: lari 100 m, 1.500 m... (di luar kepala aku sebutkan prestasi dari Bob Mathias terperinci satu per satu).
- Kau hebat! Bapak malahan tidak tahu soal prestasinya itu... Ajak Mega kalau tidak ada tugas sekolahan...

Pada malam harinya kitapun menonton film semi-dokumenter tentang olahragawan, bintang atletik Amerika Serikat, yaitu Bob Mathias juara dasalomba Olympiade London 1948 dan Helsinky 1952, juga pemegang rekor dunia dasalomba saat itu.
Dalam film tersebut kita dapat melihat betapa berat jalan yang harus ditempuh oleh mahasiswa Robert (Bob) Mathias sebelum ia mencapai puncak kejayaannya.
Di sana digambarkan secara visuil sistimatika persiapan yang diadakan jauh sebelumnya oleh coach untuk mengorbitkan wonder boy Amerika Serikat ini. Alangkah baiknya jika buat masa sekarang ini film semi-dokumenter tentang pahlawan bulutangkis kita Rudy Hartono Kurniawan dapat dibuat, sehingga generasi-generasi yang akan datang bisa belajar dari film tadi bagaimana pahlawan bangsanya berjoang menuju puncak-puncak prestasinya, yaitu untuk menjunjung harkat dan nama Indonesia di forum Internasional dalam bidang olah raga. Setelah pertunjukan berakhir, dalam perjalanan pulang ke Istana negara di mana film tadi diputar, bapak bercakap-cakap tentang film yang baru kita tonton tadi.
- Tok, hebat ya perjoangannya Bob Mathias buat jadi juara. Seperti itu yang harus kita contoh... Bukannya ngak-ngik-ngiknya crossboy Amerika!!
Juara Dasalomba kita berapa angkanya?
+ Yaah, sekitar 3.000-4.000-an-lah...
- Wah, masih jauh sekali ya (Prestasi Bob Mathias di London mendekati 7.000 dan di Helsinky mendekati 8.000).
Kasihan... atlit kita kurang kalori... itulah jadinya kalau dijajah kolonialisme 350 tahun!!! Betul-betul cakung kita ini! Kau tahu, nanti kalau kita sudah merdeka betul-betul selama 30-40 tahun pasti Indonesia punya banyak Bob Mathias-Bob Mathias! (cakung = krempeng).
Tapi pemuda-pemuda kita harus menyiapkan diri dari sekarang, seperti yang kau lihat di film tadi! Jauh sebelum Bob Mathias turun gelanggang olympiade London ’48 ia sudah mempersiapkan diri dan dipersiapkan! Kalau kau ingin jadi Bob Mathias latihan dari sekarang yang rajin...
+ Nggak punya alat-alatnya Pak!
- Bapak belikan, bikin daftarnya...

Semalaman aku tidak bisa tidur membayangkan diriku jadi juara dasalomba seperti Bob Mathias yang setiap pergi ke mana-mana selalu dikejar-kejar oleh fansnya yang cantik-cantik... oh lamunan yang nimat!
Keesokan harinya...
+ Pak ini daftar alat-alat yang aku perlu, cakramnya yang ukuran kecil saja, pelurunya juga ukuran kecil, kalau lembingnya yang biasa saja, kalau ada jangan dari bambu!
- Yo,yo,yo... Eh, kau tahu Bob Mathias bulan depan akan datang ke Indonesia!
+ Hah?! Ah, masa?
- Betul, Oom Hugh Cummings barusan kasi tahu sama Bapak; kau harus jemput dia (Hugh Cummings Dubes A.S. untuk Indonesia).
+ He-eh deh! Pak aku ke sekolah ya!
- Yo!

Sejak mempunyai peralatan dasalomba setiap sore aku berlatih di lapangan rumput yang terbentang di antara Istana Merdeka dan Istana Negara dengan tekun. Mulai dari lari sprint 100 m sampai dengan segala macam cabang lompat, lempar dan lari jarak menengah. Pada suatu kali dalam latihan lempar cakram, akibat dari kesalahan teknik melempar yang kubuat, cakram yang harusnya melesat ke depan ternyata melesat terbang ke arah sampingku langsung menghujam pot bunga antik kesayangan bapak yang terletak di dekat tangga turun belakang Istana Merdeka sehingga ambyar berkeping-keping...
+ Busyet! Mampus gua! Pak Eneeem!!! Siiniiiiii!!
v Ya Allah!! Ya Gusti, Mas Guntur, kena apa itu pot mani renyak?!? (renyak = berantakan).
Bagaimana kalau bapak besok datang dari Bogor?!?...
+ Udah jangan berisik, panggil Pak Kebon sama pelayan yang lain, ini bekasnya bersiin...
v Aduh, aduh, pegimana mau omongnya sama Bapak! (sambil mukanya terpucat-pucat). Bapak pasti marah besar... duh Gusti!!

Keesokan harinya setelah bapak kembali dari Bogor...
- Tok, ayo ikut aku kontrol istana... (seperti biasanya setiap sore Bapak selalu jalan-jalan keliling Istana buat kontrol).
+ Ya... Pak... (suaraku hampir-hampir tidak keluar dan dengkul mulai terasa dingin-dingin!)> sekarang ini, gue pasti kena vonnis!! (dalam hati).
Waktu bapak dan aku menuruni tangga belakang istana Merdeka, Bapak merasa ada sesuatu yang janggal di situ.
- Tok, coba panggilkan Pak Pelayan...
Sambil berjalan ke arah Pantry istana tempat para pelayan berkumpul aku dapat mendengarkan sendiri degub jantungku yang memukul-mukul tulang rusuk saking takutnya. Di situ kulihat para pelayan semua termangu-mangu dengan muka putih seperti tembok Istana Merdeka...
+ Pak Enem... bapak memanggil...
Pak Enem sudah tak bisa menjawab lagi dan langsung ngeloyor ke arah Bapak.
- Nem, pot pot antik bapak nu didieu ke mana? (Nem, pot antik Bapak yang di sini ke man?).
vEhm... peupeus... Pak. (ehm, pecah...pak)
- hah! Siapa yang memecahkan!! Hayo siapa yang melakukan!! (dengan wajah merah padam suara bapak menggeledeg bergema dari ujung Merdeka utara sampai jalan ir. H. Djuanda; disertai pelototan matanya yang berkilat-kilat; persis seperti bila ia berpidato di atas mimbar membelejeti politik busuk Imperialisme!)
v A... ab... ab... abdi teu terang p... p... ak!
- Maenya jurig nu meupeuskeun hah!?!?!?? (masa setan yang memecahkan!)
Sementara Bapak marah-marah aku diam tertunduk sambil merasakan keluarnya butir-butir keringat dingin yang sebesar biji-biji jagung meleleh lalu menetas diujung-ujung hidungku yang jerawatan...
- Hayo kabeh pelayan kadieu!! Saha na nyaho! Mun teu aya nu ngaku, kabeh aku perintah polisi! (hayo semua pelayan ke sini! Siapa yang tahu! Kalau tak ada yang ngaku, semua kau perintah periksa polisi).
Sueb maneh nyaho henteu!?! (Sueb kau tahu tidak?)
x Abdi teu terang Pak. (saya tidak tahu Pak)
- Saleh!
= Teu... ter... ang... Pak. (tidak tahu Pak).
- Saiin! (Pak Saiin adalah pelayan di Istana Merdeka yang tertua umurnya mendekati 70 tahun saat itu dan mengidap penyakit bengek).
* A... a... abdi... (ngiik)... (ngiik: suara bengeknya) ... teu... ter... (ngik) ... ang.
- Maneh bodo kabeh!! Heh pengawal panggil komandanmu!
# Siap Pak!

Tak berapa lama komandan jaga pengawal pribadi datang dengan tergopoh-gopoh.
& Siap pak...!
- kau kutugaskan periksa semua pelayan-pelayan ini, juga tukang-tukang kebon, cari sampai ketemu siapa yang memecahkan pot antik di sini! Kalau sudah dapat... gantung dia!! Mengerti!!
& Laksanakan pak!
Pada saat itu kulihat Pak Saiin yang sedang berdiri gemetaran itu ternyata celananya sudah basah kuyup karena ngompol!
& Miturut laporan tertulis serah terima penjagaan kemarin, anu... Pak... eh... potnya... pe... cah... kk... ena... cakram P p... ak...
- Apaa!?!
& Pecah kena cakram!!
- ...?? ...! ..! ...??....
Waaaahhh!! Hayoooo kabeh bubaaaaarrr!!!
- Tok, ayo jalan-jalan!

Setelah berjalan agak jauh dari para pelayan yang sedang melongo-longo, sambil berjalan bapak berbisik serak padaku...
- Lain kali kalau bikin salah kasi tau Bapak! Jangan seperti ini tenggorokan Bapak hampir-hampir putus; saiin terkencing-kencing, pengawal repot.. jebulnya kau punya ulah!!!
+ Ya... Pak...
- Satu hal lagi...
Bob Mathias ndak pernah bikin pecah pot antik... tahu!!!?!!
+ ????? ... ???...