01/11/2010

SUARA ~ Kuntowijoyo

Ada suara menderu dan warna ungu. Terserap
jasadku. Kukira akan padan juga. Tetapi tidak.
Adakah engkau juga menangkap makna itu? Di luar,
sebagai sediakala. Langit bersatu dengan birunya
menyelimuti bumi yang diam. Pelan udara merayap,
menggosok-gosok di pohonan. Engkau pasti tak
mendengar suara itu. Ada gemuruh di tubuhmu.
Barangkali ruhmu sedang mempersoalkan gelombang
yang tak mau berhenti itu. Gelombang-gelombang
suara. Gelombang-gelombang warna. Bercahaya-
cahaya! Membuatku lupa bahwa hari sudah malam,
sudah waktunya pergi tidur. Tidak, ia bergerak-
gerak. Menuntunku ke mimpi yang lena sebelum
bahkan mata berhasrat memejam. Hai! la mengucapkan
sesuatu yang sempurna. KATA. Aku tak paham
apa. Terasa bagai buaian. Mengayun-
ayun. Sebagai di benua asing aku keheranan.
Tenggelam di garis batas, yang sayup-sayup.
Jauh, jauh. Ada jalan dari berkas cahaya, sangat
licinnya. Bagai meniti benang sutra, aku berjalan
di atasnya. Berjalan, tidak ada ujungnya.
Kekosongan dari tepi ke tepi. Aku kehilangan
jejak sudah. Namun, aku berjalan juga. Alangkah
nikmat jadinya! Suara itu masih menderu. Warna
masih ungu. Tiba-tiba aku kenal benar.
Tiba-tiba saja aku tahu. Sudah lama aku merindukannya.


Puisi Oleh: Kuntowijoyo