23/10/2013

Celoteh Malam

Celoteh malam
Kau menyulam lembut dedaunan
Dalam seribu rayuan kebohongan
Angin berlalu pergi
Senyap panorama kian berlari
Mengejar hangat naluri
Hanya saja bulan sabit bungkam
Membekukan warnanya dalam diam
Hingga celoteh malam dan ronta kebohonganmu
Tersedu hanya dalam mimpimu
Biarpun indah dentumanmu
Adalah pilu baginya
Dia hanyalah bintang
Yang bersinar dari kejauhan
Untuknya yang tersayang.


Tempat gelisah
Kubiarkan angin menjelmaku jadi malam
Hening petang memusang
Mengambang desir dari kejauhan
Hati adalah samudra tuhan
Menghempas dentuman dedaunan
Dan paduan rindu dalam persahabatan
Kuliat embun membasasi daun
Dan ia akan segera tiba pabila ranum
Tempat ia mengadu angin lautan
Sendu resah aku yang pasrah


Wahai segala desau senjakala
Jiwaku hanya akan kurelakan
“Menyatu dalam indramu
Dan tuhan aku”
Kasihmu
Ibarat cahaya bulan
Bersinar pelan dalam batinku
Bait-bait yang diagungkan
Oleh angin bahkan gelombang
Maka kalau kupandang remang
Diambang petang itu
Sari-sari keindahan mengulam
Senang semua insan
Jika kau mengilhami aku
Pesan indah itu dari tuhan!
Entah…?
Hanya malam-malam sendiri
Yang bisa mengantarkan aku
Padamu Allahku
Bersama perih Sinai do’aku.


Bekas tersisa
Kau adalah bekas hina
Dari mulutnya yang menganga
kau adalah bekas anak serigala
Yang bermalam digubuk sarangnya
Takkan kau biarkan hilang
Sia-sia
Selama mata angin belum pudar catatannya
Selama mata masih terbuka
Dan selama pula
Ia tak mengenal rasa kemanusiaanya
Karena memang bukan manusia
Tak pernah sakit apa lagi dendam
Karena tuhan yang penyayang
Tapi tangis doa’nya jangan kau remehkan
Tuhan bersama orang-orang terhina
Miskin, tawakal dalam hidupnya
Adalah kunci dekat dengan Tuhannya.


Terkadang candaku sakit di dada
Diluar ,
suaraku lantang menerima
didalam,
suaraku jadi air mata
detak jantungku serasa
berhenti seketika
rongga dadaku terasa
sempit menahan sesaknya
hati
ku
bagai
terpotong
tanpa
sisa
bila kau terlalu dalam bercanda
tak berhenti sebelum aku bagai orang mati
berusaha sekuat hati dalam menerima
semua yang terjadi
tapi
hari demi hari
darah hitamku
semua mengalir keotakku


Puiki Karya: Hermans

Kategori Puisi: Puisi Cinta