31/10/2013

Guru, Bimbel, dan Google

Anak-anakku, masihkah kalian memanggilku guru.
Ketika manusia semakin mendamba dan memuja ilmu.
Ketika batas antarnegara semakin menyatu dan semu.

Anak-anakku, masihkah kalian memanggilku guru.
Ketika pabrik ilmu di kota-kota kian berserak.
Ketika bimbingan belajar menjadi mata dagangan yang kian merebak.

Anak-anakku, masihkah kalian memanggilku guru.
Ketika kami dianggap tak lagi mencukupi.
Ketika kami dianggap tak lagi mumpuni.

Anak-anakku, masihkah kalian memanggilku guru.
Ketika kalian mampu membayar mahal bimbingan belajar.
Ketika kalian menyangka kami tak lagi pintar.

Anak-anakku, masihkah kalian memanggilku guru.
Ketika mesin pintar di mana-mana telah bersemayam di kepala.
Ketika mesin pintar telah menjelma menjadi penguasa.

Anak-anakku, masihkah kalian memanggilku guru.
Ketika pengetahuan mudah kalian peroleh dengan sekali tekan.
Ketika mesin pintar memamerkan ilmu yang kalian inginkan.

Anak-anakku, masihkah kalian memanggilku guru.
Ketika di pojok ruang kalian memburu ilmu sambil tertawa.
Ketika keangkuhan mesin pintar menjadi teman setia.


Puisi Karya: Syukur Budiardjo

Kategori Puisi: Puisi Nasehat



Syukur Budiardjo adalah Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 79 Jakarta. Tinggal di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Senang menulis puisi, cerpen, artikel sastra, pendidikan, film, dan bahasa. TuliSannya terpublikasikan di surat kabar dan majalah Terbit, Suara Karya, Pelita, Berita Buana, Swadesi, Warta Kota, Mutiara, Merdeka, Kompas, Suara Guru, Gerbang, dan Gema Widyakarya. Sekarang staf redaksi majalah Suara Guru. Menulis buku pelajaran penunjang Kiat Menulis Alinea (Aries Lima, 1995), Belajar Mengarang: Dari Argumentasi Hingga Narasi (Erlangga, 1997), Buku Evaluasi dan Tugas Siswa Bahasa Indonesia untuk SMP (6 jilid, Gema Sukses, 2002).