31/10/2013

Sajak Bebas Untuk si Tercela

Bercerita dialam nyata, tetapi seperti mimpi.
Aku bermimpi, tetapi mataku terbuka.
Dalam mimpiku aku mengalahkanmu. Aku memotong lehermu, aku menang tertawa terbahak-bahak.

Kau minta maaf, aku meludahi mukamu.
Kau menangis, aku semakin terbahak-bahak.
Aku melakukan itu karena aku muak padamu.
Aku membalas luka saudaraku yang tersakiti olehmu.

Dihadapanmu sekarang orang-orang kecil yang kau bodohi, akan meludahimu dan menganiayamu.
Kau tikus berdasi, sekarang kau harus mati.
Maaf aku melakukan itu, bukan berarti aku tak punya hati nurani.

Aku manusia biasa yang tak bisa jauh dari dosa.
Kau juga tak bisa lepas dari dosa sama sepertiku, namun dosa yang kau buat sangat menjijikan dihadapanku.

Memotong lehermu dan meludahi mukamu belum cukup membalas luka kami.
Aku ingin memotongmu sekecil debu.
Aku ingin kau masuk neraka, terus dikembalikan kembali ke bumi ini.

Akan ku ulangi memotong dan meludahi.
Kubakar sampai menjadi abu, kuinjak abu itu kan kuhanyutkan disamudra.

Sebelum kau mati aku ingin kau menderita dibumi.
Deritamu akan hilang bila kau bisa mengembalikan kesejahteraan bangsa ini.

Semoga mukjizat datang padamu.
Kau yang kejam menjadi pahlawan.
Kau bisa mengalahkan tikus berdasi yang masih berkeliaran, atau menjinakan agar menjadi baik.

Sajak ini bukan untuk mendendam.
Sajak ini bukan do’a buruk.
Aku hanya ingin menyampaikan pesan lusuh yang mungkin tak terbaca.
Meski begitu, apa yang aku inginkan akan sampai melalui angin yang akan membisikan padanya.
Terimalah sekiranya...


Puisi Karya: Windu Pangukuh

Kategori Puisi: Puisi Pesan