04/01/2014

Sebutir Kelapa

Sebutir kelapa berkulit sawo jatuh menggelinding diatas pasir hitam

bertemu anak ketam yang dibawa dendang air asin kepesisir

Bara melingkar tipis kepulkan asapnya dari sebatang sigaret

diapit jari kanan kumbang yang sedang digantungi mendung

paru-paru yang menghisap nikotinnya terus melawan bimbang yang datang

Menatap hampa lautan yang coba melipur laranya dengan ombak

tapi semua yang ada disekitar matanya hanya bak diorama saja

tak tahu harus diadu pada siapa gundah yang memecah sukmanya

Sebutir kelapa layu dilumpuh angin tak bisa melawan gravitasi

jatuh diatas pasir beberapa jengkal dari anak kerang yang dihempas laut

Duduk seseorang diatas karang tak lagi merasai kreteknya

Kedua lengannya bertumpu diatas lutut mengarah ke samudera

matanya terus menahan buih dilema yang merongga dada

Memburu sejauh mungkin tuk dapatkan arti sejati kesetiaan

ketika segenap raga bersiaga arungi satu ikatan asmara

tangan Tuhan mengujinya, menggunting benang penyatu dua jiwa

Sebutir kelapa kering bergeming melayu bulatnya diatas pasir

dipinggir laut karang-karang mematung tersembur deru ombak

mengkawal langkah gontai seseorang, menunduk kelopak matanya

Ia yang pernah berkawan bahagia dengan mawar pilihannya

Ia yang pernah menanam beratus cahaya fajar bersamanya

harus membiarkannya pergi dari hati yang amat mencintainya

Sepertinya air mata dukanya terbang kelaut luas

Sepertinya sesak yang dirasa dibawa desir gelombang

Sebutir kelapa berkulit hijau muda masih dipangku induknya

ia akan bernyanyi dalam nafas waktu hingga kulitnya berganti rona

Semilir angin akan tetap berdenyut-denyut diantaranya


Puisi Karya: Risma Adhani

Kategori Puisi: Puisi Sedih